30 MENIT

Oleh Isa Alamsyah  Matanya bengkak, hidungnya patah, dan seluruh tulang terasa retak atau mungkin memang ada yang retak.Puluhan, bahkan...

Oleh Isa Alamsyah 

Matanya bengkak, hidungnya patah, dan seluruh tulang terasa retak atau mungkin memang ada yang retak.Puluhan, bahkan mungkin ratusan pukulan baru saja menghujam ke wajah dan sekujur badannya. Injakan dan tendangan tetap mengiringi tubuhnya yang roboh.  Lelaki itu mencoba melawan, tapi belasan pasang tangan-tangan kekar dari para narapidana, yang begitu kenal dekat dengan kekerasan, berlomba memukul wajahnya, membuatnya tak berdaya. Hanya dalam hitungan menit sebelum sipir sempat melerai, lelaki itu sudah terkapar.Entah kenapa budaya ini tak pernah hilang. Para narapidana sangat suka memukuli orang yang sebelumnya mapan di dunia luar.  Termasuk dirinya.


 “Ayah kapan pulang? Aku mau tidur ditemani ayah!” ”Terbayang wajah Citra, si bungsu yang merengek ketika terakhir mengunjunginya di sel penjara.“Dita sekarang susah dikontrol, dia sering keluar dengan teman-temannya di geng motor. Dita kini merokok, Yah!” Keluhan sang istri tentang putri sulungnya terngiang kembali .“Ayah….awaaasss “Suara teriakan Dita menyadarkannya. Suara yang didengarnya setiap kali ia mulai memejamkan mata.Matanya mencoba melihat melalui lubang tipis di antara kelopak matanya yang bengkak.Tampak seorang dokter penjara baru saja selesai memeriksanya dan berlalu.Infus di tangan mulai terasa gatal dan perih.Tapi tangannya tidak bisa menggaruk karena diikat kuat ke atas besi tempat tidurnya.Entah berapa lama ia tidak sadarkan diri setelah habis dikeroyok tahanan lain.Pikirannya kosong mengingat bagaimana 30 menit telah menghancurkan hidup dan masa depannya .Satu tahun hidupnya telah dicuri, dan masih tahunan lagi ia harus mendekam.


***


“Sabar-sabar, jangan emosional. Kita sudah berusaha sebaik-baiknya, tapi memang situasinya yang tidak memungkinkan” kata  seorang manajer mencoba meredakan amarah para buruh yang sedang berdemontrasi.“Bapak kira tiga bulan waktu yang sebentar! Bukan cuma kesabaran kami yang habis, uang kami sudah habis, kesehatan anak-anak kami habis, uang jajan anak anak kami habis, semuanya sudah habis” seru seorang karyawan yang menjadi juru bicara buruh.“Ya saya tahu, tapi kami pun dari manajemen juga belum mendapat gaji tiga bulan belakangan ini.” jawab seorang perwakilan dari pihak manajemen.“Tapi kalian punya tabungan, sedangkan kami darimana harus menghidupi keluarga.” bantah sang juru bicara, tak mau kalah.“Sabar,..sabar..”“Sudah tidak ada sabar-sabar ambil saja barang yang ada..!” terdengar provokasi entah dari mana di tengah kerumunan buruh.“Ayo, nggak ada gunanya lagi menunggu..!” Gayung bersambut dari arah lain.“Ayo…”“Ayo…”       Kali ini sudah tidak jelas lagi siapa yang berbicara.Ratusan buruh merangsek kantor managemen. Mereka mengambil apa saja yang bisa mereka raih. Komputer, telepon, kipas angin meja, bahkan jendela dan pintu semua dibawa mereka.Sebagian lagi meringsek ke pabrik, menggotong mesin, memutus kabel dan membongkar tiang-tiang besi.Sudah lebih dari 3 bulan para buruh bersabar. Sekalipun gaji mereka belum di bayar mereka tetap bekerja. Tapi janji perusahaan tidak pernah ditepati.Sejak penurunan omset perusahaan tahun lalu sudah 2 gelombang buruh di PHK.Awalnya para buruh mengira mereka yang tidak dipecat beruntung karena masih punya pekerjaan, tapi justru kini mereka tidak punya gaji tidak punya pesangon.Hingga amarah mereka tidak bisa dibendung.Perusahaan besar ini , kini tinggal kenanganTidak ada lagi pabrik megah yang berdiri.  Tidak ada lagi kesibukan mobil yang hilir mudik mengambil dan mengirim barang. Tidak ada forklift yang sibuk menaik turunkan barang.semua sudah disita, semua sudah diambil alih.Seandainya saja para buruh tahu, mungkin mereka punya satu nama, satu nama yang mereka akan lampiaskan kemarahan bersama.Karena hanya satu nama itu yang membuat mereka kehilangan pekerjaaan.Semua hanya karena sang empunya nama lalai 30 menit lamanya.


***


Suasana kelas yang ceria tidak membuat Citra tersenyumIa hanya diam seribu bahasa.Sejak kejadian tahun lalu, gadis ini kehilangan keceriaan dan semangat hidup.“Nilainya jatuh terus, ia tidak bisa konsentrasi, kadang marah-marah tidak jelas dan bahkan memukul kawannya’  ungkap sang guru perihal murid yang dulu sangat dibanggakannya.“Tolonglah Bu, saya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik, tapi ia seperti tidak bisa melupakan ayahnya. Bahkan saya sedang pusing memikirkan kakaknya Citra, Dita. Main lama makin tidak terkontrol” Jawab sang ibu, mencoba membela diri.“Ibu harusnya membawa Citra juga kakaknya Dita ke psikolog.  Mereka mengalami trauma yang cukup berbahaya.” Saran sang guru.“Saya tahu , bu, tapi saya tidak sanggup membayar psikolog. Kini penghasilan kami pas-pasan. Perusahaan kami sudah bangrut. Aset semua disita.” Jawab sang ibu penuh iba.“Apakah Citra masih sering bermimpi buruk?” Tanya sang guru mengganti topik pembicaraan.Sang ibu menunduk, suaranya bergetar, “setiap hari, ya hampir setiap hari ia selalu berteriak ayah…ayah…ayah…!”Sementara itu, di sudut lain, Citra masih duduk diam dengan sebuah pensil dan buku gambar yang terus dipegangnya. Ia menggambar seorang ayah dan anak sedang berlari bersama.Di halaman baliknya ada gambar seorang ayah mengangkat tinggi anak perempuannya.Di bagian lain ada gambar seorang ayah sedang mendongengkan kisah ke anak gadisnya.Gambar-gambar sederhana yang cukup membuat orang tahu apa yang dirindukannya.Sang anak mungkin tak sadar, kebahagiaannya telah direngut oleh 30 menit kelalaian.


***


Baju khusus yang dirancang untuk mengikat tangannya berhasil dilepaskan.Pasien rumah sakit jiwa itu kini menyerang perawat yang menemaninya.“Kembalikan anakku..! katanyaSang perawat yang kelabakan, berteriak minta tolong.Tak lama kemudian, dua pria tegap masuk dan menyetrum leher sang perempuan.Ia jatuh dan pingsan.Sang perawat menulis catatan di bukunya---Hari ke 365, masih sama, belum bisa menerima kehilangan---“30 menit itu telah membuatnya gila.****


Sebuah pesan terakhir ditulis lelaki itu sebelum lompat dari jembatan.Keputusan besar dibuatnya setelah menyadari betapa kelalaiannya membuat seorang ayah kehilangan kebebasan, sebuah keluarga kehilangan ayah dan masa depan mereka, seorang ibu kehilangan anaknya dan menjadi gila, dan ribuan pekerja kehilangan pekerjaaannya.Ia hanya lalai 30 menit dan mengubah kehidupan begitu banyak orang.Ketika Hendra melamar kerja menjadi supir, ia tahu benar sang majikan sangat tidak suka menyetir.Bukan tidak suka, tapi majikan selalu mengantuk ketika menyetir.“Si bos bisa berjam-jam di depan computer, tapi kalau pegang stir, baru beberapa menit sudah terkantuk-kantuk. Boring katanya” ungkap sang supir tentang Bosnya suatu hari.Tapi hari itu, si Bos terpaksa menyertir.Anaknya harus pergi ke sekolah karena panik di hari-hari pertama masuk SMA, tidak boleh terlambat.Sialnya, di hari yang begitu penting sang supir justru terlambat.Tentu saja si bos harus memaksakan diri, karena jangankan terlambat, anak baru yang disiplin saja bisa jadi inceran senior, apalagi kalau telat.Saat itu Hendra begadang dan ketiduran. Ia terlambat datang 30 menit ke rumah bos untuk mengantar si sulung, Dita.Sayangnya begitu tiba, mobil sudah berangkat karena si Bos terpaksa mengantarkan sulung ke sekolah.“Ya, memang ini tujuan saya belajar menyertir mobil, hanya jika dalam keadaan darurat” kata si bos suatu kali jika ada yang bertanya kenapa tumben ia menyetir.Tapi kali ini berbeda.Bunga, seorang gadis cilik anak tetangga jatuh dari sepeda, tepat di depan mobil yang dikendarai si Bos. Tidak ada waktu untuk berhenti dan terdengar bunyi tulang retak dan terasa jelas ban mobil melindas sesuatu.Bunga tidak tertolong dan sang Bos harus bertanggung jawab."Kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain" seru sang jaksa di persidangan, dan diamini oleh hakim.Tujuh  tahun tahanan bukan waktu yang singkat.Hidupnya hancur, keluarganya hancur, perusahaannya bangkrut dan satu nyawa melayang.Semua terjadi karena supirnya terlambat datang 30 menit.


***


“Ya Tuhan,Kalau saja ada waktu yang bisa diulang,Aku hanya butuh waktu 30 menit  ketika aku ketiduranSeandainya saja aku tidak begadang,Seandainya saja aku tidak ketiduran,Seandainya aku tidak terlambat,Si Bos gak perlu menyetir sendiri.Mungkin Bunga tidak tertabrak,Mungkin Si Bos tak perlu dipenjara,Mungkin perusahaan tidak perlu bangkrut,Mungkin ibu Bunga tidak perlu gila.Ya Tuhan,Aku bersalah tapi aku tidak dihukum di hukum duniaAku mau menolong tapi tidak ada yang bisa kulakukanSetiap hari aku maluDan aku putuskan untuk menghukum diriku.Seandainya saja 30 menit itu bisa kembali…Surat itu melayang setelah tubuh Hendra terhempas di tanah.

COMMENTS

Nama

Agung Pribadi,27,Ari Kinoysan Tips,88,Asma Nadia,4,Automation,1,Bahagia,1,Bayi,1,Belajar Menulis,66,blog dedi,1,Bot,1,Buku,2,Business,2,Catatan Hati Seorang Istri,3,Curhatku,16,dedi,1,Dedi Padiku,4,Facebook,1,Film,1,Fitur Terbaru Blogger,1,Full width,4,Gallery,4,Google Plus,10,Hot,23,Iklan,1,Instagram,1,Internet,1,Komentar,3,Live,1,Mario Teguh,1,Marketing,3,mengejar mimpi,4,Mengejar Ngejar Mimpi,3,Motivasi,5,News,2,Republika Online,1,Resonansi Republika Online,20,Rumah Baca Asma Nadia,9,Sinetron,1,Tips Menulis Isa Alamsyah,36,Tutorial Blog,5,Website,3,
ltr
item
Dedi Padiku: 30 MENIT
30 MENIT
Dedi Padiku
http://www.dedipadiku.com/2013/10/30-menit.html
http://www.dedipadiku.com/
http://www.dedipadiku.com/
http://www.dedipadiku.com/2013/10/30-menit.html
true
8571116810322177122
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy