Kesalahan Penulis No.6 (Terlalu banyak karakter atau terlalu sedikit).

Oleh: Isa Alamsyah Menentukan berapa jumlah tokoh karakter dalam sebuah cerpen atau novel merupakan salah satu pertimbangan yang harus dipi...

Oleh: Isa Alamsyah

Menentukan berapa jumlah tokoh karakter dalam sebuah cerpen atau novel merupakan salah satu pertimbangan yang harus dipikirkan oleh seorang penulis.
Salah satu kelemahan penulis pemula adalah mereka tidak mempertimbangkan berapa banyak jumlah karakter yang perlu ditampilkan dalam cerpen atau novel.

Padahal itu sangat penting sekali.
Misalnya satu kelurga ada ayah ibu dan anak. Tapi dalam cerpen ketika sedang mengisahkan hubungan anak dan ibunya, sosok ayah tidak perlu ditampilkan bahkan terkadang tidak perlu dijelaskan ada di mana masih ada atau tidak bercerai atau meninggal. Kalau memang tidak dibutuhkan, ya abaikan saja.

Ketika Adam Putra Firdaus (8 tahun), putra kami, mulai menulis Mostly Ghostly, ia berdiskusi dengan bundanya, Asma Nadia, berapa tokoh yang ingin ditampilkan.
Bukunya merupakan cerita anak-anak yang setiap kali ada isu hantu maka mereka justru menelusuri dan membuktikan itu hantu atau bukan. Tujuannya agar anak-anak Indonesia tidak takut hantu.

Nah setelah diskusi cukup panjang, akhirnya Adam dan bundanya sepakat tokohnya hanya 3 orang saja.
Kenapa? Karena kalau 4 atau lima terlalu banyak. Sedangkan buku tersebut berisi beberapa kisah pendek berseri yang terlepas satu dan lainnya, jadi kalau tokohnya banyak akan makan waktu, setiap orang perlu dialog setiap orang butuh dijelaskan melakukan apa ketika berada di mana.

Kenapa tidak 2, nanti terlalu sedikit sehingga akan sulit memberi bumbu konflik.
Kalau satu, juga terlalu sedikit sehingga sulit memberi bumbu humor.
Memang Adam suka memberi bumbu humor pada cerpennya, dan jumlah tiga orang menjadi mungkin karena Adam tinggal memasukkan salah satu dari mereka punya karakter yang lucu.

Alhamdulillah, keputusan itu tepat, buku ini sangat diminati anak-anak, dan pembaca anak-anak banyak yang mengatakan buku ini lucu, bahkan sudah 3 produser yang berminat untuk mengangkatnya ke layar lebar (insya Allah).
Adam bahkan melanjutkan dengan buku kedua Mostly Spooky.

Kalau tokohnya 4 atau 6 orang mungkin kisah ini akan jadi terlalu oanjang dan membosankan.
Ketika Asma Nadia membuat cerpen Emak Ingin Naik Haji, yang kemudian diangkat dalam layar lebar, Asma juga mempunyai pertimbangan kenapa Zen sang anak adalah anak tunggal.
Kenapa?

Kalau anak emak banyak, emak tinggal minta anaknya patungan atau bisa saja salah satu anaknya sukses dan bisa menghajikan ibunya. Jadi konfliknya tidak wajar.
Justru cerita ini menjadi wajar karena Zen adalah putra satu-satunya dan harapan satu-satunya.
Emak juga dibuat hidup tanpa suami (janda), karena kalau emak masih punya suami ya suaminya dong yang menghajikan istrinya.

Karena itu memutuskan bahwa Zen adalah anak tunggal dan Emak adalah single mother merupakan hasil pertimbangan matang agar sebuah cerita menjadi kuat.
Cerpen Emak ingin naik haji bisa dibaca dalam buku Ummi terbitan Republika (Kumpulan cerpen dan novelet Asma Nadia tentang ibu).

Saya sendiri pernah membaca naskah peserta lomba penulisan cerpen.
Di sana banyak sekali penulis yang memasukkan karakter asal tempel.

Misalnya:
Rita adalah siswa SMU yang sangat populer. Ia mempunyai genk ngetop yang beranggotakan 6 gadis cantik, Siska, Tia, Dita, Ajeng, Vina dan tentu saja ia sendiri.
Lalu di cerita tersebut dibahas konflik antara Rita dan Tia, sedangkan lainnya hanya tempelan. Padahal kalau satu genk tiga orang saja cerita tersebut tetap mengalir.
Jadi kisah itu kebanyakan tokoh sehingga hanya tokoh tempelan.

Apa itu tokoh tempelan?
Tokoh yang kalau kita cabut dari cerita, maka tidak memberi pengaruh apa-apa, karenanya dihilangkan saja.
Jadi intinya, kalau mau menulis cerpen atau niovel, pikirkan berapa tokoh yang kita ingin masukkan. Jangan kebanyakan jangan pula terlalu sedikit.
Samapai di sini dulu

(Nanti dibahas tentang menentukan sifat karakter, dsb di kesempatan lain).

COMMENTS

Nama

Agung Pribadi,27,Ari Kinoysan Tips,88,Asma Nadia,4,Automation,1,Bahagia,1,Bayi,1,Belajar Menulis,66,blog dedi,1,Bot,1,Buku,2,Business,2,Catatan Hati Seorang Istri,3,Curhatku,16,dedi,1,Dedi Padiku,4,Facebook,1,Film,1,Fitur Terbaru Blogger,1,Full width,4,Gallery,4,Google Plus,10,Hot,23,Iklan,1,Instagram,1,Internet,1,Komentar,3,Live,1,Mario Teguh,1,Marketing,3,mengejar mimpi,4,Mengejar Ngejar Mimpi,3,Motivasi,5,News,2,Republika Online,1,Resonansi Republika Online,20,Rumah Baca Asma Nadia,9,Sinetron,1,Tips Menulis Isa Alamsyah,36,Tutorial Blog,5,Website,3,
ltr
item
Dedi Padiku: Kesalahan Penulis No.6 (Terlalu banyak karakter atau terlalu sedikit).
Kesalahan Penulis No.6 (Terlalu banyak karakter atau terlalu sedikit).
Dedi Padiku
http://www.dedipadiku.com/2015/04/kesalahan-penulis-no6-terlalu-banyak.html
http://www.dedipadiku.com/
http://www.dedipadiku.com/
http://www.dedipadiku.com/2015/04/kesalahan-penulis-no6-terlalu-banyak.html
true
8571116810322177122
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy