Think Positif and Enjoy! ala Dedi Padiku

(Tulisan ke-3) Oleh: Isa Alamsyah (@isaalamsyah) Penulis buku No Excuse!, 101 Dosa Penulis Pemula, Humortivasi Happiness is not about w...

(Tulisan ke-3)
Oleh: Isa Alamsyah (@isaalamsyah)
Penulis buku No Excuse!, 101 Dosa Penulis Pemula, Humortivasi

Happiness is not about what we have,
but how do we deal with what we have.

Bahagia itu bukan masalah apa yang kita miliki,
tapi bagaimana sikap kita terhadap apa yang kita miliki.
Quote Isa Alamsyah
Filosofi ini mungkin tidak pernah diketahui Dedi,
tapi sebenarnya prinsip ini yang dijalaninya sejak usia dini,
membuatnya tetap bahagia menjalani hidup.

Dedi kerap menemukan sudut pandang yang membuatnya bahagia,
sekalipun di mata orang itu penderitaan yang sangat.
Ketika Dedi ditelantarkan kedua orang tuanya,
anak lain mungkin memilih bersedih dan frustasi,
Dedi justru melihat itu peluang untuk menjadi mandiri, sampai akhirnya menjadi salah satu lulusan terbaik untuk seleksi kerja di Jepang.
Akan tetapi karena masalah 1 sentimeter,
sesuatu di luar kendali Dedi, ia gagal pergi ke Jepang.
(Baca novelya jika mau tahu kenapa gagal - karena lucu sekali kisahnya - kalau dibocorkan sayang - merusak surpise di novelnya).

Ket:
Ada yang bilang sebaiknya novelnya Dedi berjudul 1 cm, karena 1 cm ini yang mengubah hidup Dedi yang tinggal meraih cita-cita kembali terpuruk. Sayangnya sudah ada novel 5 cm, jadi terasa kurang original, makanya dipilih Mengejar-Ngejar Mimpi.
Untung saja, Dedi sudah membentuk dirinya untuk selalu bersikap positif.
Dan sikap itu terbawa hingga dewasa.
Hingga setelah gagal ke Jepang, ia merancang cita-cita baru.
Pergi ke Jakarta.
Karena tidak punya uang ke Jakarta, maka ia memulai dengan tahap demi tahap.
Dengan uang seadanya ia pergi ke Palu dulu (setahun jadi kuli dan sopir).
Lalu setelah ada cukup tabungan dari Palu ia mendekat ke kota lebih besar Makasar/ Manado (jadi kuli pasar, sopir, salesman, penjaga counter hape, dll)
Setelah ada uang cukup, dari Makasar kemudian baru ke Jakarta naik kapal laut.
(Di Jakarta ia bekerja sebagai kuli, pelayan toko, sopir, dll).

Sikap positif itu juga terbawa terus sehingga ketika bekerja dari bawah pun ia tetap menemukan kata-kata yang memberi nuansa positif atas pekerjaannya.
Ketika orang di kampung bertanya apa pekerjaan Dedi di Palu.
Dengan bangga Dedi bilang,
"Saya bekerja menjadi staf ahli di DPRD."
Wow hebat sekali, kata orang kampungnya.
Padahal Dedi bekerja sebagai sopir anggota DPRD.
Tapi Dedi juga punya alasan,
"Menyopir itu kan keahlian. Saya juga kan staf di DPRD. Jadi tidak salah kalau saya sebut staf ahli DPRD, ahli mengemudi."

Ketika di Jakarta, baru tiba satu dua minggu orang kampung bertanya,
"Dedi, kerja apa kamu di Jakarta?"
dengan bangga Dedi bilang,
"Saya kerja di Departemen keuangan. Lantai 20."
Wow, teman sekampung bangga.
Kadang kalau ada yang telepon pas waktunya tepat, dedi mengatakan,
"Saya kerja di Depertemen Keuangan, tuh Sri Mulyani (menkeu saat itu) lewat di depan saya!"
Makin keren saja Dedi di kampungnya.
Padahal, Dedi bekerja di Departemen keuangan sebagai kuli bangunan.
Malah lebih rendah lagi, kenek kuli bangunan.
Eh salah, bahkan lebih rendah lagi dari kenek kuli, yaitu asisten kenek kuli bangunan.
Jadi kalau ada menganggap kuli bangunan adalah kasta pekerjaan bawah, sebenarnya di bawahnya masih ada kenek, dan dibawahnya ada lagi asisten kenek.
Jadi Dedi berada di kasta terendah dari pekerjaan kasar tersebut.
Tugas Dedi adalah nya menyuplai batu, semen, dan pasir untuk kenek yang mengaduk di lantai 20 tower kedua departemen keuangan.
Pagi pagi wajar kalau lagi angkat semen Dedi melihat Sri Mulyani yang baru masuk kantor.
Kelihatannya sederhana, tapi itu yang membuatnya enjoy saja menjalani hidup di tengah kerasnya Jakarta.

Karena itu ketika karyanya jadi bahan tertawaan di sebuah situ menulis, Dedi tetap optimis dengan bukunya.
Ketika buku gratisannya ditolak anak-anak remaja, Dedi tetap postif.
Dan akhirnya sikap positifnya berwujud pada hasil positif, bukunya diterbitkan dan bahkan akhirnya difilmkan (insya Allah).
Kini setelah bukunya terbit, Dedi kembali bersikap positif.
Ketika Agung Pribadi sudah mendapat predikat Historivator, Dedi tidak keberatan menyebut dirinya Monkeyvator.
Dia malah merasa itu lucu.
Biarin, kalau monkeyvator saya jadi satu satunya.
Motivator banyak, tapi monkeyvator cuma satu, saya sendiri.
Anda bisa mengundang Dedi untuk menjadi monkeyvator di sekolah atau lembaga, pasti pendekatannya beda.
Gak mungkin sama kan, motivator dengan monkeyvator?
Dari cara dedi tertawa lepas, menepuk tangan ketika ketawa, Anda bisa tahu kenapa ia merasa cocok disebut monkeyvator.
Awalnya sebutan itu muncul karena Dedi sendiri yang mancing.
Setiap kali ada kata-kata terkait pulo kambing (tempat supply buku Gunung Agung), atau ada pembicaraan lain seperti topeng monyet, dll,
Dedi selalu bilang,
"Jangan lihat saya, kalo ngomong pulo kambing."
Padahal awalnya tidak ada yang melihat Dedi, karena dia ngomong begitu justru di kantor tiap sebut alamat pulo kambing - pas kata kambing nengok ke Ddi. Karena dia yang pancing.
Akhirnya kalau ada ngomong topeng monyet lihat ke dedi, telor mata sapi - lihat Dedi, dll.
Buat Dedi, dia gak keberatan dicela, bahkan di kantor kalo ada yang tidak mengejek dia malah nanya, kok gak ada yang ngecengin saya ya?
Jdi korban celaan kini menjadi kebutuhan Dedi saat ini.
Itu gambaran betapa Dedi melihat positif apa yang dialaminya.
Coba telaah lagi seberapa positif kita memandang diri sendiri?
Karena itu akan sangat menentukan, apakah kita ingin bahagia atau berkeluh kesah.
Labih jauh lagi, menentukan kita akan sukses atau gagal.
Adakah kisah ini terkait dengan KBM?
DI KBM (Komunitas Bisa Menulis), ada yang positif menerima kritikan pedas ada yang negatif.
Yang positif berkembang, yang negatif mungkin berhenti atau mundur.
Siapa yang salah?
Pertanyaan pentingnya bukan siapa yang salah, tapi siapa yang rugi kalau mundur dan berhenti menulis.
Jangan biarkan orang lain menghancurkan impianmu dengan perkataan mereka, celaan mereka.
Jangan biarkan orang lain merebut impianmu.
Tetap semangat...
Tetap positif...
Tetap mengejar mimpi...

https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/permalink/980646225330602/

https://www.facebook.com/AsmaNadia.Penulis/posts/10156029045615422

COMMENTS

Nama

Agung Pribadi,27,Ari Kinoysan Tips,88,Asma Nadia,4,Automation,1,Bahagia,1,Bayi,1,Belajar Menulis,66,blog dedi,1,Bot,1,Buku,2,Business,2,Catatan Hati Seorang Istri,3,Curhatku,16,dedi,1,Dedi Padiku,4,Facebook,1,Film,1,Fitur Terbaru Blogger,1,Full width,4,Gallery,4,Google Plus,10,Hot,23,Iklan,1,Instagram,1,Internet,1,Komentar,3,Live,1,Mario Teguh,1,Marketing,3,mengejar mimpi,4,Mengejar Ngejar Mimpi,3,Motivasi,5,News,2,Republika Online,1,Resonansi Republika Online,20,Rumah Baca Asma Nadia,9,Sinetron,1,Tips Menulis Isa Alamsyah,36,Tutorial Blog,5,Website,3,
ltr
item
Dedi Padiku: Think Positif and Enjoy! ala Dedi Padiku
Think Positif and Enjoy! ala Dedi Padiku
Dedi Padiku
http://www.dedipadiku.com/2015/08/think-positif-and-enjoy-ala-dedi-padiku.html
http://www.dedipadiku.com/
http://www.dedipadiku.com/
http://www.dedipadiku.com/2015/08/think-positif-and-enjoy-ala-dedi-padiku.html
true
8571116810322177122
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy