Bab 16 Perangkap

Beberapa hari ini perasaanku tak enak, suwanda dan iwan akhir-akhir ini terlihat aneh. Aku menemukan sesuatu yang sedang mereka rencanakan. ...

Beberapa hari ini perasaanku tak enak, suwanda dan iwan akhir-akhir ini terlihat aneh. Aku menemukan sesuatu yang sedang mereka rencanakan. Pasti suatu rencana yang menjengkelkan lagi. Memang sudah menjadi tabiat mereka berdua untuk selalu berusaha mewujutkan keinginan mereka. Tidak akan menyerah sebelum tercapai. Aku tahu yang mendorong mereka untuk selalu seperti itu tak lain dan tak bukan adalah mustika.
semakin tak tahan dengan ulah mereka itu. Berkali-kali gagal dalam menemukan mustika yang memang tidak pernah ada padaku, membuat mereka semakin berjibaku. kadang aku bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang mereka rencanakan kali ini?. Apakah mereka akan menodongku dengan pistol agar aku menyerah, atau mereka telah mempunyai teknik khusus seperti yang sering digunakan badan keamanan mengintograsi tersangka. Ah ...bisa-bisa aku jadi gila seperti mereka jika terus memikirkan hal ini.
Malam ini setelah mencuci mobil mereka langsung menghilang entah kemana. Di kamar tak ada. Terpaksa aku berbaring sendiri memikirkan ide sinting apa lagi yang sedang mereka sembunyikan dariku. Namun tak lama kemudian mereka berdua muncul dengan membawa sesuatu dalam kantongan.
”malam ini kita akan menikmati hidup, lupakan semua persoalan untuk sementara”. Kata suanda tersenyum-senyum sendiri. Ia mengeluarkan beberapa botol bir dari dalam kantong plastik. Iwan segera mengambil loyang dan menuangkan tiga botol bir ditambah dengan dua botol cocacola dan terakhir ia masukan susu kental manis.
Aku semakin heran dengan sikap mereka. Seumur-umur baru kali ini mereka membeli minuman.
”tenang ini hanya bir tidak akan membuat kita mabuk”. Bujuk iwan seperti  petugas asuransi mengambil hati para nasabah. Bahkan bisa dibilang senyumnya mengalahkan senyum petugas asuransi kawakan. Entah apa yang telah merasuki kepala mereka berdua.
Sebenarnya malam itu aku tak mau minum, tapi memang pada dasarnya mereka pintar membujuk, akhirnya aku termakan hasutan mereka. Mulanya cara minumnya dilakukan secara bergilir memutar searah jarum jam. Jadi semuanya rata tak ada yang kelebihan minum dan yang kekurangan. Tapi semakin lama aturan itu sudah diabaikan. aku yang semakin banyak mendapat sedoran minuman. Tapi karena aku keenakan dengan rasanya, tak mempersoalkan aturan tadi. Setiap minuman yang mengalir dalam tenggorokanku semakin terasa nikmat. Kami yang baru kali ini merasakan minuman, merasa seperti melakukan petualangan yang sangat menakjubkan. Kami tertawa sesuka hati. Suasana hati kami gembira.
Aku merasakan pusing yang aneh. Tak seperti biasanya. merasa seperti tak berpijak lagi dilantai. Aku melihat seluruh ruangan kamar berputar. Sedangkan aku terasa jungkir balik. Tapi asik dan menyenangkan. Meskipun kepalaku terasa berat, tapi jika bergerak sedikit terasa seperti sedang berputar-putar.
”ini giliranmu lagi”. Iwan kembali menyodorkan segelas minuman. Aku langsung menyambarnya. Tanpa hitungan detik gelas itu telah kosong. semakin senang dengan keadaanku yang hampir senewen. Suwanda dan iwan memperhatikanku. Mungkin mereka memastikan kalau aku tidak apa-apa.
Mataku semakin berat untuk terbuka, badanku lemas tak berdaya. Kulihat suanda dan iwan memperhatikan aku, wajah mereka cemas. Berkali-kali mereka bertanya padaku kalau aku betul-betul tidak apa-apa. Wajah mereka seperti orang yang sedang ragu-ragu mempertimbangkan sesuatu. Mereka berdua berdiskusi seperti sedang memusyawarahkan rencana yang sangat berat. Namun aku mendengar mereka mengatakan tentang aku.
”dia tidak apa-apa, memang begitu keadaan orang yang sedang mabuk, aku sering melihatnya di televisi”. Suanda menjelaskan kepada iwan. mereka khawatir jika terjadi apa-apa denganku. paling menjengkelkan mereka menyamakan aku seperti orang yang di televisi.
Kali ini mereka mendekatiku yang terbaring lemas. Aku hanya bisa mendengar suara mereka tapi tak mampu untuk bangun.
”yakin dia tidak apa-apa, aku takut jika sampai besok ia tak sadar-sadar, bagai mana nanti ia pergi kesekolah”. Kata iwan cemas. Ia meminta pendapat suanda.
”dia tidak apa-apa, setelah tidur beberapa jam ia akan sadar lagi. Begitu yang dikatakan orang-orang yang sering biasa minum”. Suanda meyakinkan iwan. Berkali-kali mereka menggoyang-goyang badanku untuk sekedar memastikan kalau aku telah tidur. Aku masih dapat merasakan tangan mereka tapi badanku terasa tak ada tenaga. aku masih bisa mendengar mereka berbicara.
Samar-samar mendengar iwan berbisik mengatakan kalau aku telah tertidur dan tak merasakan apa-apa lagi. ternyata aku baru tahu, mereka sengaja merencanakan agar aku mabuk, supaya mereka dengan leluasa memeriksa seluruh tubuhku untuk mencari mustika. Kurang ajar betul mereka berdua, tunggu pembalasanku. Kali ini aku kecolongan dengan rencana sinting mereka. Entah dari mana mereka mendapatkan ide gila ini. Aku hanya pasrah menunggu apa yang akan mereka lakukan.
Dengan satu komando serentak mereka berdua melucuti semua pakaianku, memeriksa setiap inci tubuhku. Kepala, rambut, mata, hidung, telinga, dan mulut. Benar-benar mereka berdua sudah menjadi gila. Mana mungkin aku menyembunyikan mustika didalam mata atau didalam hidungku. Jangankan menyembunyikannya melihat saja aku tak pernah. Dasar orang-orang gila. Mereka pikir aku tak mengetahui semua yang mereka lakukan. Lihat saja aku akan membalas perbuatan kalian.
Kini aku hanya bisa pasrah ketika tubuhku dibolakbalik sesuka hati mereka. Seperti seorang dokter yang mengotopsi korban sunami. Kadang mereka mengangkat kedua kaki dan tanganku. Memeriksa dengan sangat teliti. Tak ada bagian tubuhku yang luput dari pemeriksaan mereka. Bahkan bagian yang paling sensitif tubuhkupun tak mereka lewatkan. Lebih menjengkelkan lagi, ditempat itu yang paling lama mereka periksa. Mungkin karena mereka baru kali ini melakukannya, jadi agak sedikit kaku. Kurang ajar betul.
Paginya mereka berdua membangunkan aku dengan wajah seperti orang yang tak berdosa sama sekali. Mereka berpura-pura seperti tak terjadi apa-apa semalam. Aku juga berpura-pura tak mengetahuinya. Tapi aku tetap akan ingat kejadian malam itu. Percuma jika aku marah-marah karena ulah mereka semalam. Itu malah membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal. Aku hanya perlu membalas mereka dengan setimpal perbuatan mereka. 

COMMENTS

Nama

Agung Pribadi,27,Ari Kinoysan Tips,88,Asma Nadia,4,Automation,1,Bahagia,1,Bayi,1,Belajar Menulis,66,blog dedi,1,Bot,1,Buku,2,Business,2,Catatan Hati Seorang Istri,3,Curhatku,16,dedi,1,Dedi Padiku,4,Facebook,1,Film,1,Fitur Terbaru Blogger,1,Full width,4,Gallery,4,Google Plus,10,Hot,23,Iklan,1,Instagram,1,Internet,1,Komentar,3,Live,1,Mario Teguh,1,Marketing,3,mengejar mimpi,22,Mengejar Ngejar Mimpi,3,Motivasi,5,News,2,Republika Online,1,Resonansi Republika Online,20,Rumah Baca Asma Nadia,9,Sinetron,1,Tips Menulis Isa Alamsyah,36,Tutorial Blog,5,Website,3,
ltr
item
Dedi Padiku: Bab 16 Perangkap
Bab 16 Perangkap
Dedi Padiku
https://www.dedipadiku.com/2009/10/bab-17-pertengkaran.html
https://www.dedipadiku.com/
https://www.dedipadiku.com/
https://www.dedipadiku.com/2009/10/bab-17-pertengkaran.html
true
8571116810322177122
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy