Bab 21 Tertipu

tak habis pikir dengan seorang wanita yang berada dibelakang itu. Cahaya lampu didalam mobil yang tidak terlalu terang membuat aku tak menge...

tak habis pikir dengan seorang wanita yang berada dibelakang itu. Cahaya lampu didalam mobil yang tidak terlalu terang membuat aku tak mengenalinya. Hatiku bertanya-tanya, jangan-jangan wanita yang selalu menunduk ini telah salah menaiki mobil. Sebab saat mobilku sudah sampai pada tujuan terakhir, ia belum juga turun. Aku memberanikan diri untuk bertanya.
”maaf anda mau turun dimana. Ini sudah sampai tujuan terakhir”. Kataku penasaran. Wanita ini tetap diam tak menjawab. Aneh apakah wanita ini bisu sehingga tak bisa menjawab pertanyaanku. Aku memutar mobilku sambil melirik jam mobil yang sudah pukul sebelas malam.  Disekelilingku suasana semakin sepi. Tak ada seorangpun yang berada dilokasi pasar minggu yang menjadi tempat terakhir tujuan mobilku.
Aku terdiam menghentikan mobilku di tengah-tengah pasar yang telah sepi. Wanita ini belum mengatakan apa-apa. Namun samar-samar aku mendengar wanita itu menangis sesegukan. semakin heran dengan keadaan ini. Akhirnya aku keluar dari belakang kemudi untuk mendekati wanita misterius itu. Aku mendekatinya dikursi belakang. Ia masih menangis dan terus menunduk.
”maaf, ada yang bisa saya bantu”. Kataku hati-hati, kuamati wajahnya. namun saat aku memperhatikan wajahnya, aku terbelalak. Iyen menunduk menangis tak melirikku. Aku gugup panik tak tahu harus berbuat apa.
”apa yang tejadi, iton menyakitimu”. Tanyaku gelisah. Iyen masih tak menjawab.
”iyen jawab, apa yang terjadi, katakan iyen”. Aku tak bisa menyembunyikan rasa panik. Tapi iyen tetap saja tak mempedulikan aku.
putus asa setelah gagal mencoba beberapa kali untuk membuatnya bicara.
”baiklah aku harus mengantarmu kemana”. Tanyaku tanpa berharap untuk mendapat jawaban darinya. Karena percuma saja aku terus mendesaknya. Mungkin ia masih ingin menyelesaikan tangisannya. Sejenak aku tertegun melihatnya menangis. Aku menghempaskan tubuhku duduk disampingnya, menarik nafas dalam-dalam sambil terus mendengar suara tangisnya. Iyen semakin menangis keras membuatku cemas.
”katakan apa yang terjadi, apakah kau diusir dari rumah, katakan iyen. tolong jangan kau buat aku khawatir”. Kataku dengan suara sedikit keras. Iyen masih tak bergeming. Namun dalam satu gerakan yang tak kuduga sama sekali, iyen memelukku erat-erat. Aroma tubuhnya membuat jantungku seakan ingin berhenti saja. Tubuhnya begitu hangat sehingga membuat dadaku semakin sesak, jantungku tak teratur seperti akan meloncat keluar. Saat itu ingin sekali aku membalas pelukannya. Tapi entah mengapa aku tak kuasa melakukannya. Air matanya membasahi pundakku.
Aku dan iyen larut dalam kesedihan. Dengan masih memelukku iyen terus menangis. tak tahu mengapa mendengarnya menangis tanganku bergerak sendiri membelai mesra rambutnya. Aku sangat tersentuh mendengarnya menangis. Seakan aku ingin menangis bersamanya. Iyen seperti sedang menumpahkan isi hatinya kepadaku. Dalam suasana haru itu tiba-tiba aku teringat sahabatku iton. Aku merasa telah menghianatinya. Maka dengan segera aku melepaskan pelukanku. Iyen terkejut dan langsung memandangku.
”maaf, aku telah hilaf, bukan maksudku memanfaakan kesedihanmu, sungguh aku tak sengaja telah memelukmu”. Kataku gugup. merasa bersalah dengan sahabatku sendiri.
Aku seperti tak percaya dengan kejadian ini. Entah mengapa aku tak berdaya jika berada didepan iyen. juga tak tahu mengapa. Aku hanya merasa ingin selalu melindunginya. tak tahan melihatnya menangis. perasaan itu tulus tanpa syarat. ini semakin meyakinkan aku bahwa aku telah mencintai iyen. Aku tahu iyen juga mencintaiku. Namun cinta diantara kami tak pernah diucapkan dengan kata-kata.
”iyen.....aku akan mengantarmu kemana”. Bisikku pelan. Kulihat iyen nampak gundah. Seperti orang yang kebingungan tak tahu harus menjawab apa. Ia menghela nafas sebelum mengucapkan kata-kata.
”malam ini aku ingin menginap dirumahmu”. Jawab iyen membuat aku tersentak mendengarnya. Mana mungkin ia akan bisa menginap dirumahku, tak ada kamar kosong yang layak untuknya. Iyen mengamati wajahku sepertinya ia bisa membaca pikiranku.
”dulu waktu pertama kalinya kita mengingukuti masa orientasi siswa baru, kau pernah mengatakan kalau kau akan melakukan apapun kepada wanita yang menolongmu waktu ketua osis memberi ganjaran untukmu, selama tiga tahun masa sekolah. karena waktu itu aku telah menolongmu, jadi aku akan menagi janjimu itu”. Aku kembali terkejut mendengar itu.
ingat bahwa aku pernah mengatakan itu, memang ialah yang telah menolongku, dengan sengaja tak menghindar saat aku menangkapnya. Tapi masalahnya permintaan iyen sangat sulit aku penuhi. Satu-satunya kamar yang bisa untuknya adalah kamarku, itupun ranjang yang memalukan itu telah aku keluarkan. jika iton sampai tahu ia menginap dirumahku, entah apa yang akan terjadi. Aku semakin kalut memikirkan keadaan ini. Tapi aku langsung teringat rumah alun tak jauh dari sini.
”iyen aku tahu tempat yang cocok untukmu, rumah alun tak jauh dari sini, alun pasti sangat senang jika kau menginap dirumahnya malam ini”. Kataku bersemangat. merasa telah memecahkan masaalah ini. Namun kulihat wajah iyen berubah kecewa. Aku bertanya-tanya sendiri, apakah ada yang salah dengan kata-kataku.
”sudahlah jika kau tak mau menolongku. Aku akan mengusahakannya sendiri”. Kata iyen sangat marah dan langsung berdiri untuk turun dari mobil. Aku manahan tangannya.
”eh..tunggu....tunggu, aku tak bermaksut begitu”. jawabku dan berusaha menahannya yang memaksa keluar dari mobilku. Iyen meronta-ronta semakin berusaha keluar. emosinya meledak.
”lepaskan tanganku, aku akan mencari tumpangan lain”. Teriak iyen geram. Aku tetap berusaha menahannya. Iyen semakin marah.
”lepaskan kataku, atau aku akan berteriak keras”. Ancam iyen. Aku tak peduli.
”tidak.....tidak akan pernah”. Timpalku tak kalah sengit. Kami beradu tenaga. Ditengah pasar yang semakin sepi, mobil bergoyang-goyang. Iyen tersengal-sengal mulai kehabisan nafas melawanku. Tapi tak berhenti memaksa keluar dari mobilku. aku juga tak mungkin membiarkan ia tengah malam buta begini berjalan sendirian.
Dengan sisa tenaganya iyen mendorongku agar bisa meloloskan badannya keluar. Akupun semakin kuat mendoronnya kedalam. Namun musibah terjadi, aku tak sengaja telah mendorongnya hingga terjatuh, kepalanya terbentur keras di jendela mobil.
”bbrraakkkk.........”. iyen pingsan. Tubuhnya kaku tak mengeluarkan suara. Aku mengangkat kepalanya, mengamati wajahnya. Namun ia tetap tak bergerak atau setidaknya merintih kesakitan. mulai panik dan ketakutan sambil menempelkan jariku didepan hidungnya memastikan kalau iyen masih bernafas. Tapi aku tak merasakan kalau ia masih bernafas. Tak ada hembusan nafasnya. saat itu juga aku sadar iyen telah mati. Aku menghentak-hentakan tubuhnya. Menyuruhnya bangun, semua cara yang pernah aku lihat difilem-filem telah aku lakukan. Memeriksa nadinya, membuka matanya. Namun sialnya aku tak mengetahui apa yang baru saja aku lakukan. terus berteriak-teriak menggoyang-goyang tubuhnya.
”iyen.........maafkan aku iyen......aku tidak sengaja. Sumpah iyen aku tidak sengaja”. Aku menangis berteriak-teriak memeluknya seperti orang gila. Namun tak ada yang mendengarku ditengah pasar yang jauh dari rumah penduduk. Aku sangat menyesal. Namun semuanya telah telambat. Iyen telah mati.
”iyen....aku mohon jangan mati, aku sangat menyayaingimu iyen, aku tak sanggup hidup tanpamu iyen”. Air mataku terurai-urai membasahi wajah iyen. Aku terus memeluknya erat-erat. Entah mengapa baru sekarang aku merasa sangat menyesal karena tidak pernah mengakui didepannya kalau aku begitu menyayainginya. jika tuhan memberiku kesempatan sekali lagi aku tak akan menyianyiakannya. Aku akan menjaga iyen lebih dari apapun didunia ini.
Saat ini aku baru merasakan ketakutan yang sangat dasyat untuk berpisah dengannya. Aku terus meraung-raung menangis sejadi-jadinya.
”tuhan.....selamatkan ia tuhan.....jangan ambil nyawanya tuhan, aku mohon kepadamu”. Aku menangis sampai bibir bergetar. Kini air mataku telah membasahi seluruh bajunya. Aku terus meratap perih tak sanggup menerima kenyataan ini. Aku menangis sampai seluruh tubuhku keram. Aku kelelahan putus asa, Bersimbah didepannya. Iyen telah pergi meninggalkanku.
Dengan sisa nafas terakhir, aku memeluknya dengan perasaan penuh penyesalan yang tak tertahankan. Kudekatkan wajahku kewajahnya yang putih bersih.
”iyen....aku sangat menyayangimu. Aku tak sanggup hidup tanpamu iyen”. Bisikku lirih seolah iyen bisa mendengarku. Saat ini aku merasakan langit telah runtuh menindihku. Aku telah kehilangan seseorang yang paling aku sayangi.
”tuhan.....aku mohon kepadamu tuhan, beri aku kesempatan sekali lagi, aku akan melakukan apapun untukmu tuhan”. Aku terus menangis sampai air mataku kering. terus mendekapnya, kepalanya kusandarkan didadaku.
”iyen....aku sayang kau iyen. Aku bersumpah akan melakukan apapun untukmu iyen”. Kataku bersungguh-dungguh kepadanya seolah ia masih hidup. Kutatap wajahnya dalam-dalam kemudian memeluknya lagi. Tubuhku gemetaran tak merasakan lagi apa-apa. Hidupku telah berakhir.
Kini semua kenangan bersamanya seakan terbentang nyata didepanku. Aku melihat beberapa wanita beteduh dibawah pohon dilapangan upacara. Aku berlari kearahnya tak sedikitpun iyen menghindar. Aku menyeretnya menarik tangannya dengan kasar, ia terjatuh diselasar yang dipenuhi pot-pot bunga. Namun ia tak mengeluh, aku menggendongnya, dan kemudian menciumnya didepan ribuan siswa. Aku teringat juga saat bersamanya dibelakang sekolah. Kulihat iyen tersenyum tulus kearahku. Air mataku kembali terurai-urai mengenang itu. Kini aku merasakan hidupku telah tamat, hidupku tak berarti lagi.
Perlahan-lahan aku bangkit menggendong iyen. Terseret-seret aku keluar mobil. Saat menggendongnya, aku merasa seperti sedang menggendongnya ketika petama kalinya aku bertemu dengannya. Ketika ia menyelamatkanku beberapa tahun lalu. terus berjalan teseret-seret menggendongnya yang aku sendiri tak tahu harus kemana. Seluruh badanku kaku tak terasa lagi akibat telalu lama menangis.
Air mataku membasahi wajahnya saat aku mencium keningnya. Untuk kesekian kalinya aku tak bosan memandang wajahnya yang cantik. Ia seperti tersenyum kearahku. Namun aneh senyumnya prlahan-lahan berubah seperti orang yang sedang menahan tawa. Dan pada detik itu iyen langsung tertawa terpinkal-pingkal, meloncat dari pelukanku. Aku sadar iyen telah menipuku. Ia telah mengerjaiku mentah-mentah. Awas kau. Didepanku ia semakin tertawa lebar. Aku mengejarnya.
”awas kau, dasar kurang kerjaan, kau talah mempermainkan aku, itu tak bisa dimaafkan”. Kataku sambil terus mengejarnya.
”makanya jangan sekali-sekali mempermainkan perasaan wanita”. Teriak iyen tertawa-tawa sambil menghindar dari kejaranku. Suara kami memecah kesunyian area pasar. Tak ada seorangpun dipasar yang luas itu selain kami berdua. Pasar yang tadinya sepi menjadi ramai dengan suara ketawa bebas kami berdua.
Aku terus mengejarnya, iyen berputar-putar mengelilingi mobil, nafas kami memburu tersengal-sengal kelelahan. Namun tak ada diantara kami yang behenti. Kami seakan merdeka menikmati malam ini. Tak ada kekawatiran lagi diantara kami selain kebahagiaan yang sangat luar biasa. Sebenarnya aku bisa saja menangkapnya dengan mudah. Namun tak tahu mengapa aku masih ingin mengejarnya. Aku sangat menikmati suara cecikan menahan tawa dari iyen saat aku belum bisa menangkapnya. Ia seperti bahagia ketika aku tak kunjung menangkapnya. semakin menggodaku untuk segera menangkapnya.
Iyen tersengal-sengal berhenti berlari. Wajahnya berseri-seri merasa sangat bahagia sekali telah berhasil mengerjaiku.
”ampun...sudahhh....akuhh tak kuat lagi. Habis sudah napasku”. Kata iyen memohon. Aku langsung memeluknya. tak tahu kenapa kali ini aku tak segan-segan lagi untuk memeluknya erat-erat. Sebaliknya iyen membiarkan tubuhnya yang langsing berada dalam pelukanku.
Namun entah mengapa tiba-tiba kami berdua terdiam, wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Kami berpandangan untuk diam sesaat. Perlahan-lahan dengan sendirinya wajahku bergerak maju kearahnya. Iyen menutup matanya seakan memberi aku kesempatan untuk menciumnya. mungkin karena setan sedang berada disitu. Maka aku tak sadar mencium lembut keningnya.
”apakah yang kau ucapkan tadi itu benar adanya”. Bisik iyen pelan. Aku tercekat tak mampu menjawab. Iyen menatap lekat wajahku seakan sedang mencari sesuatu.
”jawab dedi, aku ingin kau mengulanginya lagi untukku”. Pinta iyen dengan suara lirih.
”jadi kau telah mendengar semua kata-kataku tadi”. Tanyaku. Iyen mengangguk pelan. Sebenarnya aku sangat malu telah menangis didepan iyen tadi. seandainya aku tahu ia Cuma berpura-pura mati, mungkin aku tidak akan sampai mengakui isi hatiku didepannya.
”ah....sudahlah jangan dibahas lagi, ini sudah larut malam, pamanku pasti sudah khawatir menungguku yang belum juga memasukan mobil”. Kataku berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku langsung berjalan menuju mobil. Namun belum sempat aku melangkah iyen menahan tanganku. Aku terhenti dan berbalik kearahnya. Didepanku iyen diam memandangku. Kami kembali beradu pandang dan terdiam sesaat tak bersuara. lagi-lagi aku tak kuasa menahan tanganku untuk membelai rambut lurusnya yang terurai jatuh disamping wajahnya.
”iyen, kau bukan milikku, kau telah menjadi milik orang lain. bagai manapun juga aku tidak akan pernah bisa memilikimu, kita sangat berbeda jauh iyen. aku juga tidak mau menghianati temanku sendiri. Aku harap kau bisa mengerti aku”.kataku pelan. Mendengar itu iyen menitikan air matanya. aku tak tahan melihatnya menangis.
Dengan sangat hati-hati aku menggendong iyen menuju mobil. Iyen tak bereaksi. sengaja mendudukkan iyen dikursi depan tepat disampingku. Karena malam ini aku tak ingin iyen berada jauh dariku. Perlahan-lahan kami meninggalkan lokasi pasar yang kembali sepi. Sepanjang jalan kami hanya terdiam. Aku terus memikirkan tentang kejadian-kejadian yang aku lalui bersama iyen. Aku heran dengan semua itu. Bagaimana mungkin wanita secantik dia yang diperebutkan banyak orang tiba-tiba kini sedang ingin berada disampingku dan bahkan menangis dalam pelukanku. 

COMMENTS

Nama

Agung Pribadi,27,Ari Kinoysan Tips,88,Asma Nadia,4,Automation,1,Bahagia,1,Bayi,1,Belajar Menulis,66,blog dedi,1,Bot,1,Buku,2,Business,2,Catatan Hati Seorang Istri,3,Curhatku,16,dedi,1,Dedi Padiku,4,Facebook,1,Film,1,Fitur Terbaru Blogger,1,Full width,4,Gallery,4,Google Plus,10,Hot,23,Iklan,1,Instagram,1,Internet,1,Komentar,3,Live,1,Mario Teguh,1,Marketing,3,mengejar mimpi,22,Mengejar Ngejar Mimpi,3,Motivasi,5,News,2,Republika Online,1,Resonansi Republika Online,20,Rumah Baca Asma Nadia,9,Sinetron,1,Tips Menulis Isa Alamsyah,36,Tutorial Blog,5,Website,3,
ltr
item
Dedi Padiku: Bab 21 Tertipu
Bab 21 Tertipu
Dedi Padiku
https://www.dedipadiku.com/2011/04/bab-21-tertipu.html
https://www.dedipadiku.com/
https://www.dedipadiku.com/
https://www.dedipadiku.com/2011/04/bab-21-tertipu.html
true
8571116810322177122
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy